ASSALAMUALAIKUM

ASSALAMUALAIKUM WR.WB

Selasa, 03 April 2018

TRANSFORMASI WAJAH KRL

1. Layanan Transformasi KRL

Banyak penumpang berebut naik ke atap kereta. Tak hanya itu, pedagang kaki lima (PKL) dan pengamen dengan bebasnya berpindah dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Para pengamen memetik gitar mereka di tengah ramainya penumpang KRL. Sementara pedagang menawarkan gorengan hingga penjepit rambut kepada para penumpang yang sedang duduk maupun berdiri di gerbong. Pedagang tak hanya bebas mondar-mandir di dalam gerbong kereta, mereka juga menjajakan barang dagangan di bantaran rel layaknya pasar tumpah. Namun, kondisi seperti itu tak lagi terasa. PT Kereta Api Indonesia terus berbenah. Pelayanan KRL terus diperbaiki secara bertahap, mulai dari tak ada penumpang di atap kereta, hingga PKL, maupun pengamen di dalam gerbong. Semua gerbong KRL commuter line kini dilengkapi pendingin ruangan, kursi yang empuk, hingga petugas yang siaga membersihkan gerbong.
Pembenahan layanan KRL Jabodetabek diawali pada 2009. PT KAI membeli 8 unit kereta AC pertama seri 8500 yang dibentuk menjadi satu rangkaian KRL. Tak hanya layanan di dalam gerbong, fasilitas penunjang pun dibenahi. Terowongan maupun jembatan penyeberangan orang dibangun di stasiun agar penumpang tak lagi melintasi rel. Tiket yang digunakan kini tidak lagi menggunakan kertas. Anak perusahaan PT KAI, PT KAI Commuter Indonesia (KCI), mengeluarkan tiket harian berjamin (THB) dan multi-trip (KMT). Jenis tiket kini dikembangkan, mulai dari bentuk gelang, stiker, hingga gantungan kunci. Selain itu, PT KCI menyediakan vending machine untuk mengurangi transaksi di loket. Dengan adanya mesin ini, penumpang bisa membeli tiket secara mandiri. Mesin ini dapat melayani semua transaksi, mulai dari pengisian saldo KMT, pembelian, dan pengembalian THB. Hingga kini, layanan KRL terus diperluas sampai ke Rangkasbitung, Banten, bahkan Cikarang, Jawa Barat. Pengembangan juga dilakukan dengan mengintegrasikan kereta dengan transjakarta. Rencananya, pemerintah akan mengembangkan sistem transit oriented development (TOD). KRL akan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya yang berbasis kereta, yakni MRT, LRT, dan kereta bandara. KRL merupakan salah satu transportasi massal andalan warga di Jabodetabek. Namun, masih banyak hal yang harus terus dibenahi. Jadwal yang terlambat, sering gangguan, antrean masuk stasiun, hingga kondisi gerbong yang padat saat jam sibuk masih menjadi pekerjaan rumah PT KCI.

2. Manfaat CommuterLine

1.      Multifungsi tidak pakai antri2
2.      Naik KRL lebih nyaman dengan kartu multi trip dan tiket harian berjamin3
3.      Bisa menggunakan tiga kartu prabayar bank BUMN

3. Tantangan CommuterLine
Sepertinya perubahan terus menuntut manusia kearah yang lebih cepat. Dulu kereta api terutama KRL mungkin menjadi transportasi yang kumuh dan kotor. Namun saat ini semua sudah berubah. Sejak Pak Jonan masuk, perubahan radikal dilakukan di sana sini termasuk pada pola manajemen waktu dan kinerja. Semua sepertinya terukur dan terekam dengan data atau monitoring. Perubahan budaya perusahaan setidaknya dapat dikatakan berhasil. Namun tantangan tidak berhenti disini, harapan pelanggan yang semaikin hari berubah dan menuntut yang lebih baik, bisa jadi batu sandungan bagi manajemen KRL itu sendiri.
Fokus kepada intensitas armada KRL, ketepatan waktu dan kenyamanan pada saat berada di KRL adalah hal yang seharusnya menjadi perhatian. Bagaiamana KRL setiap mungkin 3-5 menit sekali hadir, dengan jadwal yang tepat dan nyaman pada saat didalam KRL adalah fokus yang harus dituju. Kenyataan yang terjadi saat ini, intensitas armada KRL masih belum dapat dipastikan, ketepatan waktu juga masih sering menjadi kendala apalagi berbicara kenyamanan penumpang didalam kereta terutama pada jam sibuk seolah --olah menjadi pilihan keterpaksaan seseorang untuk naik KRL.
Untuk 5-10 tahun mendatang mungkin KRL masih menjadi pilihan namun lihat perkembangan teknologi begitu pesatnya, KRL mungkin tidak akan bersaing dengan perusahaan KRL swasta ( karena memang tidak ada) namun harus bersaing dengan moda transportasi lain yang saat ini sedang memikirkan bagaimana mengalihkan pilihan orang dari KRL menuju moda transportasi lain atau dengan kata lain merebut pilihan penumpang tersebut. Setidaknya bagi perusahaan yang telah matang kadang terlena dengan hal mungkin diluar bidang bisnisnya namun cenderung lalai terhadap layanan utama perusahaan itu ada, atau terlalu fokus pada nilai tambah namun melupakan manfaat/esensi keberadaan produk itu sendiri. Semoga bermanafaat